Rabu, 02 September 2009

Tafsir Surah Al-Maa’uun

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ، فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ، وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ، فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ، وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS. Al-Maa’uun [107]: 1-7)


Laa yahudhdhu (tidak menganjurkan), maksudnya adalah tidak membantu.

Fawailun (maka kecelakaanlah), maksudnya adzab yang pedih.

Yuraa`uun (berbuat riya`), maksudnya adalah menampakkan hal yang berbeda dengan apa yang sebenarnya ada dalam bathin mereka.

Al-Maa’uun (barang-barang berguna), maksudnya adalah barang-barang yang bermanfaat yang biasa dipertukarkan di antara orang-orang.


Akhlak yang baik (mulia) merupakan buah dari keimanan kepada Allah dan hari Akhir. Orang yang tidak beriman akan memiliki hati yang keras; dia tidak mau menyayangi anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang fakir. Allah akan menyiksa orang seperti ini dengan siksaan yang pedih.

Siksaan yang pedih juga akan diterima oleh orang yang bermalas-malasan dalam mengerjakan shalat dan mengakhirkan pelaksanaan shalat hingga waktunya habis, dan juga orang yang shalat dengan niat agar dirinya dipandang sebagai orang yang rajin shalat. Orang seperti ini adalah orang munafik.

Hal serupa juga akan dialami oleh orang yang bakhil, yang tidak mau memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang lain, baik bantuan berupa tenaga maupun barang-barang yang bermanfaat.

Surah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa keimanan tidak hanya berhubungan dengan aspek ibadah semata, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial. Atau dengan kata lain, di samping berhubungan dengan hablun minallaah (hubungan vertikal/hubungan dengan Allah), keimanan juga berkaitan dengan hablun minan-naas (hubungan horizontal/hubungan dengan sesama manusia). Keimanan seseorang tidak dianggap sempurna bila dia tidak menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia, salah satunya dengan cara menyantuni yatim piatu dan menolong fakir misikin atau orang yang membutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda