Sabtu, 26 Juni 2010

Mertuaku Cerewet

Assalammualaikum Wr. Wb.
Ustadz, saya dan anak diminta suami tinggal di rumah mertua di kota C, kurang lebih 3 jam dari Jakarta. Suami saya bekerja di Jakarta, sedangkan saya bekerja di kota S, kurang lebih 2 jam dari Jakarta dan 1/2 jam dari kota C. Namun, saya hanya sesekali saja ke kota S dan lebih banyak bekerja di rumah. Saya sudah berusaha untuk menuruti suami tinggal di kota C, karena suami ingin saya menemani orangtuanya dan ingin anak kami dibesarkan di lingkungan dimana suami dulu tinggal.
Namun, saya tidak betah tinggal di rumah mertua karena mertua perempuan saya sangat cerewet dan suaranya sangat keras, sehingga saya merasa tidak pernah tenang dan ikut pusing tujuh keliling mendengar semua problem yang diceritakan oleh mertua saya. Mertua saya sangat senang berbicara karena beliau guru bahasa. Bahkan, beliau hampir tidak pernah diam. Saat membaca majalah atau koran pun, beliau melakukannya dengan suara keras agar orang lain dapat mendengar.
Sementara itu, pekerjaan saya sangat membutuhkan ketenangan, karena saya harus membaca banyak buku dan literatur, lalu menuliskannya kembali dalam bentuk makalah atau penelitian. Mertua laki-laki saya suaranya juga sangat keras dan orangnya galak. Mertua laki-laki sering meminta uang ke istrinya yang juga bekerja. Anehnya, kalau marah, dia seringkali menyemprot istrinya dengan air pada saat sedang tidur malam hari..Mohon petunjuknya Ustadz. Syukron.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
T - …..

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Saudariku yang terhormat, sebelumnya saya mohon maaf karena nampaknya pertanyaan ini sudah cukup lama disampaikan. Namun, saya baru memberikan jawaban karena saya baru mengecek kembali email-email yang masuk. Walaupun terlambat, mudah-mudahan jawaban yang diberikan masih bermanfaat, amin.
Saudariku, untuk mewujudkan satu tujuan, dibutuhkan adanya komitmen dan tekad yang kuat, yang dengannya seseorang akan mampu mengatasi berbagai masalah baik rintangan, hambatan, cobaan ataupun godaan. Bila komitmen seseorang kuat, maka dia akan mampu untuk menghadapi setiap masalah yang menghadangnya, sebesar apapun masalah tersebut. Sebaliknya, bila komitmennya lemah, maka dia tidak akan mampu untuk menghadapi setiap masalah yang muncul, sekecil apapun masalah tersebut.
Dalam kasus Anda ini, Anda dan suami harus mempertegas kembali dua tujuan, yaitu tujuan Anda menikah dan tujuan Anda diminta suami untuk tinggal di rumah mertua. Bila Anda berdua telah sepakat untuk mencapai kedua tujuan tersebut, maka kuatkanlah komitmen untuk mewujudkannya. Bila komitmen Anda berdua kuat, saya yakin, masalah yang sedang Anda hadapi sekarang tidak akan menjadi masalah serius yang dapat menjadi batu sandungan (rintangan) bagi Anda berdua dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah.
Dari penjelasan Anda di atas, saya melihat bahwa tujuan Anda tinggal di rumah mertua adalah karena suami ingin agar Anda dan anak Anda menemani kedua orangtuanya yang –nampaknya- tinggal hanya berdua saja. Pada saat Anda mengiyakan atau menyetujui permintaan suami tersebut, berarti Anda dituntut untuk berusaha mewujudkan tujuan yang diinginkan suami. Saya yakin bila komitmen Anda tinggi, maka seperti apapun sikap mertua Anda, Anda akan mampu untuk menghadapinya. Apalagi bila Anda menyadari betul bahwa orangtua suami Anda adalah orangtua Anda juga yang harus Anda terima apa adanya dan harus selalu Anda hormati, walaupun terkadang ada sikapnya yang kurang menyenangkan. Mungkin awalnya agak sedikit berat, tapi semua tergantung niat dan kebiasaan. Bila Anda mau membiasakan diri untuk bersabar dalam menghadapi sikap mertua yang mungkin kurang cocok di hati Anda, maka lambat laun Anda akan menganggapnya sebagai hal biasa.
Jadi saran saya, cobalah untuk menghadapi sikap mertua dengan penuh kesabaran. Anggaplah dan perlakukanlah dia seperti orangtua Anda sendiri. Berusahalah semaksimal mungkin untuk menerima kekurangan atau kelemahan yang ada pada dirinya. Carilah cara agar Anda merasa nyaman tinggal di tempat mertua. Sebagai contoh, bila Anda merasa terganggu saat Anda sedang bekerja di rumah, cobalah untuk bekerja di kamar. Kemudian tutuplah telinga Anda dengan kapas atau headphone agar Anda tidak terlalu terganggu dengan suara keras mertua Anda. Saya yakin bila komitmen Anda kuat dalam mewujudkan tujuan tersebut, pasti ada cara untuk mengatasi masalah yang sedang Anda hadapi sekarang.
Namun perlu diingat, bila Anda telah berusaha maksimal, tetapi ternyata Anda tidak berhasil juga sehingga Anda masih kurang nyaman tinggal di rumah mertua, maka kembalilah ke tujuan utama Anda, yaitu membangun rumah tangga yang sakinah serta penuh mawaddah dan rahmah. Jangan sampai tujuan kedua (menemani orangtua suami) yang merupakan tujuan sekunder dalam kehidupan rumah tangga Anda itu mengganggu upaya Anda berdua dalam mewujudkan tujuan utama yang merupakan tujuan primer. Jangan sampai gara-gara masalah yang Anda hadapi sekarang, keutuhan biduk rumah tangga Anda berdua terancam. Bila ada indikasi ke sana, bicarakanlah baik-baik dengan suami. Tapi ingat, hindari emosi! Saya yakin ada solusi terbaik!
Sebagai penutup, saya kutipkan firman ALLAH swt. yang menggambarkan tujuan utama pernikahan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri ddari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum [30]: 21)
Demikian penjelasan dari saya, mudah-mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan rumah tangga Anda berdua senantiasa diberkahi ALLAH swt., amin. Wallaahu A’lam….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda