Jumat, 27 Agustus 2010

Curhat Seorang Kakak Tentang Adiknya Yang Durhaka

Assalamualaikum Wr. Wb.
Maaf Pak Ustadz, saya ingin berkonsultasi tentang keluarga saya. Mudah-mudahan Pak Ustadz bisa membantu saya, amin. Saya adalah anak sulung yang mempunyai 2 orang adik laki-laki. Adik pertama saya sekarang berusia 30 tahun. Sejak kecil, dia memang lebih nakal. Tapi biasa nakalnya anak kecil, hanya sebatas sulit dinasehati, suka membangkang dan di sekolah pun selalu ranking terakhir. Hal ini membuat orang tua saya, terutama bapak, sering memarahinya dan bersikap kasar kepadanya. Bapak saya juga termasuk orang yang tidak bisa menahan emosi. Jika marah kepada anak-anaknya, dia sering berbuat kasar kepada mereka dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.
Karena adik saya yang pertama sering membantah, maka dialah yang paling sering dimarahi. Bahkan, meski adik saya telah menikah, bapak saya sering berselisih paham dengannya hingga berujung pada pertengkaran. Saya sering menasehati bapak agar beliau lebih dapat mengendalikan emosinya, apalagi adik-adik saya sudah dewasa sehingga tidak semestinya mereka masih sering dimarahi dan disalahkan.
Sebenarnya adik saya yang pertama termasuk anak yang baik. Namun karena sejak kecil kurang pintar, dia pun sering berbuat kesalahan, dan terkadang hal itu tidak ditolerir oleh bapak saya. Akhirnya, adik saya pun tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan mudah tersinggung. Kebetulan adik saya tersebut tinggal bersama orang tua di kampung, sementara saya dan adik kedua tinggal di Ciputat, bersama suami saya.
Pertengkaran antara adik pertama dan bapak masih sering terjadi, meskipun pada akhirnya mereka bisa saling memaafkan. Tapi dua bulan yang lalu, adik saya bertengkar lagi dengan bapak. Dia tersinggung dengan kata-kata bapak yang –katanya- cukup menyakitkan hatinya. Adik saya pun marah, sampai-sampai dia mengata-ngatai bapaknya dengan kata "monyet" (maaf). Mendengar itu, bapak saya pun berkata kepadanya: "Kamu durhaka kepada Bapak!"
Sejak kejadian itu, adik saya tidak mau shalat karena dia merasa sudah dikutuk oleh bapak sebagai anak durhaka. Menurutnya, percuma saja shalat karena anak durhaka pasti akan masuk neraka. Selama ini, adik saya merasa dianggap sebagai anak yang tidak dihargai. Dia juga merasa selalu disalahkan atas kesalahan-kesalahan sepele yang dilakukannya.
Melihat hal itu, ibu saya menyarankan kepada bapak agar bapak mau meminta maaf kepada adik saya itu, dan alhamdulillah bapak mau menuruti saran ibu tersebut. Ibu dan bapak pun akhirnya meminta maaf kepada adik saya karena selama ini sering menyakitinya. Menurut cerita ibu, sebenarnya adik saya sudah memaafkan bapak. Tapi anehnya, sampai sekarang adik saya masih tidak mau shalat. Ibu pun menjelaskan kepadanya bahwa kutukan atau kata-kata orangtua anaknya saat marah kepada anaknya akan dihapus oleh Allah jika keduanya (orangtua dan anak) sudah saling memaafkan.
Saya juga pelan-pelan menasehati adik saya untuk shalat, tapi nasehat saya tak pernah digubris olehnya. Hari ini saya mencoba menasehati lagi, tapi dia tetap pada pendirian bahwa dia sudah dikutuk jadi anak durhaka. "Jadi buat apa lagi shalat, toh anak durhaka pasti masuk neraka", katanya. Terus terang, mendengar jawaban adik saya itu, emosi saya mulai terpancing. Saya pun berkata kepadanya: "Kalau ga mau shalat, ya sudah, tapi jangan ngaku-ngaku sebagai orang Islam!"
Pak Ustadz, saya sangat sedih melihat sikap adik saya itu, apalagi sebentar lagi mau puasa. Saya benar-benar kehabisan akal dan bingung bagaimana cara menasehatinya lagi. Sekarang saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan membuka pintu hatinya. Saya akui, selama ini adik saya memang jarang sekali belajar tentang Islam. Dia jarang membaca buku-buku agama. Biasanya kalau shalat saja, setelah selesai salam dia langsung pergi, tanpa mau berdzikir ataupun berda terlebih dahulu. Dia juga jarang sekali membaca al-Qur`an, bahkan –bisa dikatakan- tidak pernah. Mungkin itu yang membuat hatinya menjadi keras.
Pak Ustadz, tolong beri solusi untuk permasalahan ini. Mudah-mudahan Pak Ustadz bisa membantu kesulitan keluarga kami. Terima kasih sebelumnya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
M-……..

Jawaban:
Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Saudariku yang terhormat, nampaknya masalah yang Anda dan keluarga hadapi sudah cukup rumit, dan –menurut penilaian saya- masalah ini muncul karena adanya kesalahan orangtua dalam mendidik anaknya. Saya melihat, sikap orangtua Anda (baca: bapak) terlalu keras kepada adik Anda dan terkesan pandang bulu terhadapnya. Tanpa disadari, sikap ini telah mempengaruhi psikologi adik Anda dan ikut membentuk kepribadiannya hingga seperti yang Anda lihat sekarang. Apalagi di saat yang sama, adik Anda kurang mendapat pembekalan tentang pengetahuan agama, pengetahuan yang mengajarkan kepada kita bagaimana semestinya sikap seorang anak kepada kedua orangtuanya.
Seperti yang pernah saya bahas pada konsultasi berjudul "Batasan Berbakti Kepada Orangtua", seorang anak dituntut untuk selalu berbakti kepada kedua orangtuanya, termasuk bila ada sikap keduanya yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini, bukan berarti kita tidak boleh membantah. Kita boleh saja membantah atau menolak kemauan orangtua, namun bantahan atau penolakan itu harus tetap disampaikan dengan cara yang baik, dengan perkataan yang halus dan tidak bernada “membentak”, sebagaimana disinyalir dalam firman Allah swt.: “dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa` [17]: 23) Selain itu, sang anak juga harus tetap memperlakukan orangtuanya dengan baik, meskipun ada perbedaan pandangan di antara mereka. Allah swt. berfirman: “…..dan janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman [31]: 15) Jadi jelas, apa yang telah dilakukan adik Anda sangat bertentangan dengan apa yang terkandung dalam kedua ayat tersebut.
Namun, kita tidak bisa menyalahkan adik Anda seratus persen. Sebab berdasarkan cerita Anda, bisa jadi hal itu disebabkan karena sikap kasar bapak Anda kepadanya saat dia masih kecil yang ternyata telah memberikan andil besar dalam membentuk kepribadiannya yang keras. Hal itu juga bisa disebabkan karena sikap pilih kasih orangtua Anda atau juga kelalaian mereka untuk memberikan pendidikan agama kepadanya. Konon pada masa pemerintahan Umar bin Khathab ra., ada seorang lelaki yang datang kepada Umar. Lelaki itu mengeluhkan sikap durhaka yang dilakukan oleh anaknya. Umar pun memanggil anak dari lelaki tersebut, lalu dia memberi nasihat kepadanya agar tidak berbuat durhaka kepada ayahnya.
Namun anak itu justru berkata kepada Umar: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah seorang anak itu juga mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi ayahnya?”
“Benar,” jawab Umar.
“Apa itu, wahai Amirul Mukminin?” tanya anak itu.
Umar menjawab: “Hendaknya dia memilih (wanita yang akan menjadi) ibu dari anaknya, memperbagus namanya, dan mengajarkan kepadanya al-Kitab (al-Qur`an).”
Anak itu berkata: “Wahai Amirul mu`minin, ayahku tidak pernah melakukan satupun dari ketiga hal itu. Ibuku adalah seorang wanita negro yang dulu pernah menjadi budak seorang Majusi. Ayahku menamaiku dengan Ju’ala (kumbang), lalu dia tidak pernah mengajarkan satu huruf al-Qur`an pun kepadaku.”
Mendengar itu, Umar menoleh ke arah lelaki tersebut, lalu dia bertanya kepadanya, “Kamu datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal kamu telah lebih dulu mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu, dan kamu telah lebih dulu menyakitinya sebelum dia menyakitimu?
Saudariku, kisah di atas sengaja saya kutipkan agar ketika kita menghadapi masalah seperti itu, kita mau melakukan koreksi diri. Mungkinkah sikap seperti itu disebabkan oleh kesalahan kita (orangtua), atau adakah faktor-faktor lain yang menyebabkannya seperti itu? Kita tidak mungkin dapat mempengaruhi atau merubah kepribadian adik Anda bila kita tidak mengetahui apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu. Menurut saya, pengetahuan tentang sebab-sebab itulah yang dapat membantu kita dalam menyusun langkah-langkah pendekatan kepada adik Anda yang menjadi objek dalam masalah ini. Bila memang sikap adik Anda itu lebih disebabkan karena sikap keras dan pilih kasih bapak Anda kepadanya, maka saya sarankan kepada orangtua Anda untuk menunjukkan perhatian lebih kepada adik Anda itu. Tidak cukup hanya dengan meminta maaf, karena orang seperti adik Anda, meskipun mulutnya sudah mengucapkan maaf tapi terkadang hatinya masih menyimpan rasa kesal atau dendam. Teruslah untuk melakukan pendekatan kepadanya hingga hatinya benar-benar luluh. Ingat, sifat keras tidak bisa dilawan dengan sifat keras pula, tetapi harus dengan sifat lembut.
Nasehatilah dia dengan bijak dan penuh kesabaran, serta hindari semaksimal mungkin penggunaan emosi. Tekankan lagi kepadanya bahwa ALLAH swt. Maha Pengampun. Sebesar apapun dosa seorang hamba, termasuk dosa durhaka kepada orangtua, ALLAH pasti akan mengampuninya asalkan dia benar-benar bertaubat kepada-Nya. Jadi tidak ada istilah "sudah kadung (terlanjur)" durhaka, ya sudah tidak perlu shalat lagi. Atau, "Buat apa shalat, toh akhirnya masuk neraka karena durhaka kepada orangtua."
Saudariku, meskipun masalah yang Anda hadapi cukup rumit, Anda tidak perlu pesimis. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Tentunya, semua itu sangat bergantung kepada upaya kita, yaitu asalkan kita mau benar-benar berusaha untuk menyelesaikannya serta tidak lupa selalu memohon pertolongan kepada Dzat Yang Maha Kuasa, ALLAH swt.. Yakinlah, bahwa bila ALLAH berkehendak untuk melembutkan hati seseorang, maka sekeras apapun hati itu, pasti akan mencair juga. Hanya Dia-lah Dzat Yang Maha Pemberi Hidayah dan Dzat Yang Membolak-balikkan hati manusia. Karena itu, banyak-banyaklah memohon kepada-Nya agar pintu hati adik Anda dibuka oleh-Nya. Memohonlah dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, usahakan sampai meneteskan air mata, karena hanya Dia-lah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan Dzat yang bisa mewujudkan hajat-hajat kita.
Saudariku, kasus yang Anda hadapi ini mengandung pelajaran yang berharga bagi para orangtua, yaitu bahwa mencetak anak-anak yang berbakti tidak semudah membalik tangan, melainkan membutuhkan perhatian yang serius dan kerja keras dari orangtua. Diantaranya adalah dengan membekali mereka dengan pendidikan agama termasuk pengetahuan tentang akhlak karimah (akhlak yang mulia), sesuai dengan sabda Nabi saw.: "Muliakanlah anak-anakmu dan perbaguslah akhlak mereka."
Selain itu, orangtua juga dituntut untuk memberikan tauladan yang baik kepada anaknya. Sebab, tauladan yang baik merupakan cara yang paling jitu dalam mencetak anak-anak yang shaleh dan berakhlak mulia. Namun sayangnya, banyak orangtua yang kurang memperhatikan hal ini. Mereka menginginkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang rajin shalat, tapi mereka sendiri jarang shalat. Mereka menginginkan anak-anaknya berakhlak mulia dan tidak berkata kasar, tapi mereka sendiri sering bersikap kasar kepada anak-anaknya dan sering melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan akhlak yang mulia di hadapan anak-anak mereka. Satu lagi, saya yakin tidak ada orangtua yang mau anaknya menjadi anak yang durhaka, namun sayangnya tidak sedikit orangtua yang mudah sekali memvonis anaknya dengan cap "durhaka", padahal vonis seperti itu bisa jadi akan menjadi doa yang tidak baik untuk anaknya. Padahal, doa orangtua untuk keburukan anaknya termasuk salah satu dari tiga doa yang mustajab, sesuai sabda Nabi saw.: "Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan ALLAH), tidak ada keraguan sedikitpun mengenai hal itu. Ketiga doa itu adalah doa orang yang teraniaya, doa musafir dan doa orangtua untuk (keburukan) anaknya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Wallaahu A'lam....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda