Sabtu, 28 Maret 2009

Apa Yang Salah....?

Beberapa pekan yang lalu, ketika saya sedang makan bersama teman di sekitar Blok-M Plaza, tiba-tiba saya melihat sekitar 50 pelajar berjalan bersama-sama ke arah Bulungan. Awalnya, saya kira mereka adalah pelajar-pelajar yang sedang melakukan kegiatan (semisal pramuka) karena mereka membawa tongkat. Tetapi ketika saya melihat ada sejumlah pelajar yang membawa pedang, saya langsung menyimpulkan bahwa mereka akan melakukan tawuran. Dugaan saya ternyata benar, karena tidak lama kemudian datang sejumlah pelajar lainnya yang ikut bergabung dengan kelompok pertama. Melihat jumlah mereka sangat banyak, para pelajar yang menjadi lawannya langsung kabur. Saat itu pula, muncul sejumlah pertanyaan dalam benak saya: "Apa yang sebenarnya mereka cari? Ilmu atau apa? Sudah serusak inikah moral remaja-remaja kita? Apa yang mereka dapatkan di sekolah?", serta sejumlah pertanyaan lainnya. Pertanyaan yang sampai saat ini masih tersimpan dalam benak saya, adalah: "Apa yang salah pada sistem pendidikan kita?" Tentunya, ini merupakan masalah yang harus kita jawab bersama bila kita menginginkan masa depan yang gemilang untuk anak-anak kita.

3 komentar:

  1. Mahdi Hasjmy9 April 2009 17.48

    Ini masalah kita bersama. Adakah yang salah dalam pendidikan Agama dan Akhlaq thdp anak2 didik? Padahal sebagian besar mereka Muslim! Mungkin contoh dari Senior yg tdk memadai. Perlu pemikiran ulang. MH (Ditulis oleh Mahdi Hasymi

    BalasHapus
  2. Anwar Pulukadang9 April 2009 17.50

    Anda memberi topik "Apa yang salah", saya berikan beberapa hints yang didasari pengalaman. Pada dasarnya anak2 tawuran itu tidak salah, mereka hanya tersesat akibat kesalahan2 berikut:
    Pertama: anak2 tidak diberi sarana mengeluarkan energi berlebih untuk memenuhi instink bersaing. Sekolah jarang yang punya lapangan bermain, sport hall dan guru olahraga yang handal. Anak2 harus pertama diajar sportif (fair play) dulu. Doktrin2 hafalan sih nanti nanti saja.
    Kedua: pendidikan/keteladanan ortu di rumah yang jelek. Anak remaja tidak mau dikuliahi lagi di rumah, beban di telinga sudah berat. Anak remaja sdh seharusnya diajak sbg teman main golf, badminton, bilyar, mancing, naik gunung, main scrabble, catur dsb adalah sarana bagi ayah menyampaikan petuah dalam bentuk opini dan fairness dlm sport.
    Lebih bagus lagi kalau mereka belajar musik dan seni bela diri dll.
    Kesalahan ketiga adalah memasukkan anak ke sekolah yang tidak diselidiki lebih dahulu track record pertawurannya. Sekolah yang muridnya sering tawuran harus dibantu secara tuntas oleh pemerintah dan orang tua murid untuk melakukan perbaikan.
    Kesalahan keempat adalah anak tidak dikasih mengaji. Akhlak keagamaan penting utk memagari diri thdp perilaku unfair spt tawuran, madat.
    Kesalahan kelima, yang di luar kontrol langsung, adalah ketidak tegasan aparat hukum thdp tindakan kriminal.
    Saya dan banyak kawan kawan menerapkan prinsip mencegah kesalahan spt di atas, dan alhamdulillah anak anak tumbuh wajar sbg warga masyarakat modern yang bisa compete dan cooperate dgn sebaya mereka di manca negara.

    Wassalam,
    Anwar Pulukadang

    BalasHapus
  3. Husni Banjar9 April 2009 17.51

    Anda benar, seharusnya waktu anak2 itu sudah dijejalin dengan program2 extrakurikulum yang menarik, murah dan terbimbing. Karena tidak ada, extrakurukulum yang paling menarik, murah dan terbimbing itu adalah tawuran. Menarik karena kelihatan gagah perkasa dengan pernak-pernik senjata tawuran mempertontonkan keberanian, padahal beraninya kalau rame2. Murah karena tidak perlu biaya seperti kalau ikut exkur yang beneran (jadi ladang tambahan guru pembimbing). Terbimbing dengan baik oleh senior2 seprofessi tawuran. Cape deh. (Ditulis oleh Husni Banjar)

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar Anda