Jakarta - Yusuf Qardhawi lahir di Desa Shafth, Turab, Provinsi Manovia, Mesir, pada 9 September 1926, pemikirannya telah banyak dikenal di Indonesia. Sekitar 70-an bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sudah lebih dari 125 judul buku dia tulis untuk menjawab berbagai persoalan terkini yang dihadapi umat. Tak hanya dikenal, fatwa-fatwa Qaradhawi juga mudah dicerna dan diterima berbagai lapisan umat.
Qaradhawi dikenal sebagai ulama yang selalu menampilkan Islam secara santun dan moderat. Hal ini membuat berbagai pemikirannya mampu menengahi persoalan-persoalan kontroversial yang kerap menghadirkan titik-titik ekstrem dalam pemikiran Islam. Pandangannya juga tidak terpatok pada satu mazhab pemikiran tertentu.
Pandangan yang seperti itu membuat umat Islam menjadi mudah dalam menjalankan agamanya. Pada hakikatnya, Islam memang agama yang memudahkan umat dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Hal inilah yang terus diterjemahkan Qaradhawi melalui berbagai fatwanya yang sangat mudah dicerna.
Tak hanya persoalan besar yang dibahas dalam buku-buku Qaradhawi. Hal-hal kecil yang kerap mengundang pertanyaan pun tak pernah lepas dari pemikirannya. Persoalan seperti jabat tangan pria-wanita, menonton televisi, hukum memotret, dan sebagainya, dibahas secara lugas dalam bukunya ‘Fatwa-fatwa Kontemporer’.
Sedang dalam buku ‘Halal Haram dalam Islam’, Qaradhawi banyak memberi penjelasan tentang kedua hukum tersebut. Selain dengan makanan, persoalan halal dan haram dalam buku tersebut juga dikaitkan dengan pakaian, rumah, perdagangan, dan sebagainya. Semuanya dibahas sangat rinci dengan pandangan yang menengahi.
Ada lagi bukunya yang juga banyak dijadikan rujukan, yakni ‘Hukum-hukum Zakat’. Dalam buku ini, Qaradhawi memberi banyak penjelasan mengenai zakat profesi yang sempat menjadi persoalan yang cukup dibicarakan keabsahannya.
Dengan rujukan hadis yang sangat lengkap, penjelasannya soal zakat profesi ini menjadi sangat argumentatif. Persoalan zakat ini memang telah lama menjadi perhatian khusus Qardhawi. Bahkan untuk mendapatkan gelar doktor pada 1972, dia menyusun desertasi berjudul ‘Zakat dan Dampaknya dalam Penanggulangan Kemiskinan’. Desertasi ini kemudian disempurnakan menjadi Fikih Zakat.
Selain dikenal moderat, ulama yang pernah aktif dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin ini juga bersikap sangat tegas terhadap kesewenang-wenangan Barat terhadap dunia Islam. Dia ikut menyerukan untuk memboikot produk-produk AS, karena pemerintahan negara tersebut yang banyak berbuat sewenang-wenang terhadap dunia Islam.
Eksekusi hukuman gantung terhadap Saddam Hussein juga dikecamnya. Dalam khutbah yang dikutip Gulf Times, dia mengatakan eksekusi yang berlangsung bersamaan dengan perayaan Idul Adha tersebut sangat mengerikan dan sama sekali tidak Islami. “Saya tidak pernah menjadi pendukung Partai Baath atau pendukung Saddam. Tapi saya tidak bisa terima cara yang ditempuh untuk mengeksekusi Saddam,” tutur ayah tujuh anak itu. Dia menilai, kematian tersebut telah membuat Saddam menang dalam merebut hati dan simpati umat manusia.
Sebagai ulama yang sangat moderat, dia juga membebaskan putra-putrinya dalam menempuh pendidikan. Salah seorang putrinya berhasil meraih doktor dalam bidang nuklir dari perguruan tinggi di Inggris. Putrinya yang lain juga meraih gelar doktor kimia dari kampus di Inggris. Ada juga anaknya yang menempuh pendidikan di AS. Ini menjadi bagian dari sikapnya yang tidak membedakan antara ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Dia menganggap pembedaan itu menjadi salah satu penghambat kemajuan dunia Islam. (sul/bal)
Sumber: WartaOne.com
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Juli 2009
Ibnu Khaldun dan Nama Besarnya
Jakarta - Siapa yang tidak kenal Ibnu Khaldun? Ya, ilmuwan yang sangat brilian yang sering disebut raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Dia bukan saja disebut bapak sosiologi, tetapi juga bapak ekonomi dan bapak pendidikan dunia yang paling berpengaruh di dunia.
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Zaid Waliuddin bin Khaldun. Lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H, bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M. Nama kecilnya adalah Abdurrahman, sedangkan Abu Zaid adalah nama panggilan keluarga sebagai anak sulung. Waliuddin adalah kehormatan dan kebesaran yang dianugerahkan oleh Raja Mesir sewaktu ia diangkat menjadi Ketua Pengadilan di Mesir.
Menurut Ibnu Hazm, ulama Andalusia yang wafat tahun 457 H/1065 M, keluarga Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut Yaman. Jika ditelusuri silsilahnya, sampai kepada sahabat Rasulullah yang terkenal meriwayatkan kurang lebih 70 hadits dari Rasulullah. Nenek moyang Ibnu Khaldun adalah Khalid bin Usman, masuk Andalusia (Spanyol) bersama-sama para penakluk berkebangsaan Arab sekitar abad ke VII M, karena tertarik oleh kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh tentara Islam. Ia menetap di Carmona, suatu kota kecil yang terletak di tengah-tengah antara tiga kota yaitu Cordova, Granada dan Seville, yang di kemudian hari kota ini menjadi pusat kebudayaan Islam di Andalusia.
Pada abad ke VII M, anak cucu Khaldun pindah ke Sevilla pada masa pemerintahan Amir Abdullah Ibnu Muhammad dari Bani Umayyah (274-300 H) Andalusia dalam suasana perpecahan dan perebutan kekuasaan. Dalam suasana seperti ini, anak cucu Khaldun yang bernama Kuraib mengadakan pemberontakan bersama Umayyah Ibnu Abdul Ghofir, dia berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan pemerintahan (sebagai Amir) di Sevilla. Akan tetapi karena kekejaman dan kekerasannya dia tidak disenangi rakyat dan akhirnya meninggal terbunuh pada tahun 899 H.
Banu Khaldun tetap tinggal di Sevilla selama pemerintahan Umayyah dengan tidak mengambil peranan yang berarti sampai datangnya pemerintahan raja-raja kecil (Ath-Thawalif) dan Sevilla berada dalam kekuasaan Ibnu Abbad. Pada masa itulah bintang Banu Khaldun melejit sampai pada masa pemerintahan Al-Muwahidun. Setelah raja-raja Thowaif mengalami kemunduran, maka muncullah raja-raja Muwahhidin menggeser kekuasaan raja-raja Murabbith.
Pada pemerintahan Muwahhidun inilah Banu Khaldun menjalin hubungan dengan keluarga pemerintah, sehingga mereka mempunyai kedudukan yang terhormat. Tatkala kerajaan Muwahhidin mengalami kemunduran dan Andalusia menjadi kacau balau, maka Banu Khaldun pindah ke Tunisia pada tahun 1223 M. Nenek moyang Ibnu Khaldun yang pertama mendarat ke Tunisia adalah Al Hasan Ibnu Muhammad (kakek keempat Ibnu Khaldun), kemudian disusul oleh saudara-saudaranya yang lain seperti Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar Muhammad dan lain-lain.
Kakek Ibnu Khaldun itu rata-rata menduduki jabatan penting di dalam pemerintahan waktu itu. Sedangkan anaknya Abu Abdillah Muhammad (ayah Ibnu Khaldun) tidak tertarik kepada jabatan pemerintahan. Ia lebih mementingkan bidang ilmu dan pendidikan, sehingga ia dikenal sebagai ahli dalam bidang ilmu fiqih, meninggal tahun 749 H/1349 M. Ia meninggalkan beberapa orang anak di antaranya Abu Yazid Waliuddin (Ibnu Khaldun), Umar, Musa, Yahya dan Muhammad. Pada waktu itu Ibnu Khaldun baru berusia 18 tahun. Ibnu Khaldun memperoleh pendidikan agama, bahasa, logika dan filsafat. Sebagai gurunya yang utama adalah ayahnya sendiri, di samping Ibnu Khaldun juga menghafal Al Qur’an, mempelajari fisika dan matematika dari ulama-ulama besar pada masanya.
Di antara guru-guru Ibnu Khaldun adalah Muhammad bin Saad Burral Al Anshari, Muhammad bin Abdissalam, Muhammad bin Abdil Muhaimin Al Hadhrami dan Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Al Abilli. Dari merekalah Ibnu Khaldun mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada tahun 1349 setelah kedua orang tua Ibnu Khaldun meninggal dunia Ibnu Khaldun memutuskan untuk pindah ke Maroko, namun dicegah oleh kakaknya. Baru tahun 1354, Ibnu Khaldun melaksanakan niatnya pergi ke Maroko, dan di sana dia mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan tingginya.
Selama menjalani pendidikannya di Marokko, ada empat ilmu yang dipelajarinya secara mendalam yaitu bahasa Arab yang terdiri dari Nahwu, shorof, balaghoh, khitabah dan sastra. Kelompok ilmu syari’at terdiri dari Fiqh (Maliki), tafsir, hadits, ushul fiqh dan ilmu Al Qur’an. Kelompok ilmu aqliyah (ilmu-ilmu filsafat) terdiri dari filsafat, mantiq, fisika, matematika, falak, musik, dan sejarah. Kelompok ilmu kenegaraan terdiri atas ilmu administrasi, organisasi, ekonomi dan politik. Sepanjang hidupnya Ibnu Khaldun tidak pernah berhenti belajar, sebagaimana dikatakan oleh Von Wesendonk, hingga wafat.
Kecemerlangan otaknya didukung oleh kemauannya yang membaja untuk menjadi seorang yang alim dan arif. Hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad Ibnu Khaldun telah mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Memasuki usia ke 20, Ibnu Khaldun mulai tertarik dengan kehidupan politik. Pada tahun 755 H/1354 M, karena kecakapannya Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretaris Sultan di Maroko, namun jabatan ini tidak lama di pangkuannya, karena pada tahun 1357 Ibnu Khaldun terlibat dalam persekongkolan untuk menggulingkan Amir bersama Amir Abu Abdullah Muhammad. Ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi tidak lama kemudian dia dibebaskan tak lama setelah Sultan meninggal dunia dan kekuasaan direbut oleh Al Manshur bin Sulaiman dari menterinya Al Hasan. Ibnu Khaldun lalu menggabungkan diri dengan Al Manshur dan dia diangkat menjadi sekretarisnya.
Namun tidak lama kemudian Ibnu Khaldun meninggalkan Al Manshur dan bekerjasama dengan Abu Salim. Pada waktu itu Abu Salim menduduki singgasana dan Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretarisnya dan dua tahun kemudian diangkat menjadi Mahkamah Agung. Di sinilah Ibnu Khaldun menunjukkan prestasinya yang luar biasa, tetapi itu pun tidak berlangsung lama, karena pada tahun 762 H./1361 M timbul pemberontakan di kalangan keluarga istana. Dia harus meninggalkan jabatan yang disandangnya. Rupanya tidak tahan lama Ibnu Khaldun bergelut dengan dunia politik dia ingin kembali ke dalam dunia ilmu pengetahuan yang pernah lama digelutinya.
Akhirnya dia memutar haluan bertolak ke daerah Banu Arif bersama keluarganya, dan di tempat inilah Ibnu Khaldun dan keluarganya baru merasa hidup tenang dan tentram jauh dari kemunafikan politik. Dalam ketenangannya itu Ibnu Khaldun merenung ingin menumpahkan semua pengalaman dan liku-liku kehidupannya. Maka dari sinilah ia mengalihkan perjalanan hidupnya dari petualang politik kembali kepada dunia ilmu pengetahuan, dan mulailah ia menyusun karya besarnya yang kemudian dikenal dengan “Muqoddimah Ibnu Khaldun”. Selama empat tahun tinggal di daerah Banu Arif Ibnu Khaldun juga menyusun sejarah besarnya Al Ibar, akan tetapi karena kekurangan referensi maka ia pergi ke Tunisia, dan dis analah ia menyelesaikan karyanya. Rupanya ketenangan Ibnu Khaldun terganggu lagi ketika Sultan mengajaknya untuk mendampingi menumpas pengacau, namun karena Ibnu Khaldun sudah jenuh dengan kehidupan politik, maka kemudian ia pindah ke Mesir.
Di Mesir Ibnu Khaldun disambut dengan hangat. Ilmuwan yang sarjana ini sudah tidak asing lagi di sana karena karya-karyanya sudah tersebar di sana. Sebagai orang baru Ibnu Khaldun langsung diberi dua jabatan penting yaitu sebagai hakim tinggi dan sebagai guru besar di perguruan Al Azhar. Sebagai seoang pemikir Ibnu Khaldun memiliki watak yang luar biasa yang kadang terasa kurang baik.
Dalam hal ini Muhammad Abdullah Enan melukiskan kepribadian Ibnu Khaldun yang istimewa itu dengan mencoba memperlihatkan ciri psikologik Ibnu Khaldun, walaupun diakuinya secara moral ini tidak selalu sesuai. Menurutnya, ia melihat dalam diri Ibnu Khaldun terdapat sifat angkuh dan egoisme, penuh ambisi, tidak menentu dan kurang memiliki rasa terima kasih. Namun di samping sifat-sifatnya yang tersebut di atas dia juga mempunyai sifat pemberani, tabah dan kuat, teguh pendirian serta tahan uji. Di samping memiliki intelegensia yang tinggi, cerdas, berpandangan jauh dan pandai berpuisi. Menurut beberapa ahli, Ibnu Khaldun dalam proses pemikirannya mengalami percampuran yang unik, yaitu antara dua tokoh yang saling bertolak belakang, Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Al Ghazali dan Ibnu Rusyd bertentangan dalam bidang filsafat. Ibnu Rusyd adalah pengikut Aristoteles yang setia, sedangkan Al Ghazali adalah penentang filsafat Aristoteles yang gigih. Ibnu Khaldun adalah pengikut Al Ghazali dalam permusuhannya melawan logika Aristoteles, dan pengikut Ibnu Rusyd dalam usahanya mempengaruhi massa.
Ibnu Khaldun adalah satu-satunya sarjana muslim waktu itu yang menyadari arti pentingnya praduga dan kategori dalam pemikiran untuk menyelesaikan perdebatan-perdebatan intelektual. Barangkali karena itulah seperti anggapan Fuad Baali bahwa Ibnu Khaldun membangun suatu bentuk logika baru yang realistik, sebagai upayanya untuk mengganti logika idealistik Aristoteles yang berpola paternalistik-absolutistik- spiritualistik. Sedangkan logika realistik Ibnu Khaldun ini berpola pikir relatifistik-temporalistik-materialistik. Dengan berpola pikir seperti itulah Ibnu Khaldun mengamati dan menganalisa gejala-gejala sosial beserta sejarahnya, yang pada akhirnya tercipta suatu teori kemasyarakatan yang modern.
Ibnu Khaldun terkenal sebagai ilmuwan besar adalah karena karyanya “Muqaddimah”. Rasanya memang aneh ia terkenal justru karena muqaddimahnya bukan karena karyanya yang pokok (Al Ibar), namun pengantar Al Ibarnyalah yang telah membuat namanya diagung-agungkan dalam sejarah intelektualisme. Karya monumentalnya itu telah membuat para sarjana baik di Barat maupun di Timur begitu mengaguminya. Sampai-sampai Windellband dalam filsafat sejarahnya menyebutnya sebagai “Tokoh ajaib yang sama sekali lepas, baik dari masa lampau maupun masa yang akan datang.” (sul)
Sumber: WartaOne.com
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Zaid Waliuddin bin Khaldun. Lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H, bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332 M. Nama kecilnya adalah Abdurrahman, sedangkan Abu Zaid adalah nama panggilan keluarga sebagai anak sulung. Waliuddin adalah kehormatan dan kebesaran yang dianugerahkan oleh Raja Mesir sewaktu ia diangkat menjadi Ketua Pengadilan di Mesir.
Menurut Ibnu Hazm, ulama Andalusia yang wafat tahun 457 H/1065 M, keluarga Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut Yaman. Jika ditelusuri silsilahnya, sampai kepada sahabat Rasulullah yang terkenal meriwayatkan kurang lebih 70 hadits dari Rasulullah. Nenek moyang Ibnu Khaldun adalah Khalid bin Usman, masuk Andalusia (Spanyol) bersama-sama para penakluk berkebangsaan Arab sekitar abad ke VII M, karena tertarik oleh kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh tentara Islam. Ia menetap di Carmona, suatu kota kecil yang terletak di tengah-tengah antara tiga kota yaitu Cordova, Granada dan Seville, yang di kemudian hari kota ini menjadi pusat kebudayaan Islam di Andalusia.
Pada abad ke VII M, anak cucu Khaldun pindah ke Sevilla pada masa pemerintahan Amir Abdullah Ibnu Muhammad dari Bani Umayyah (274-300 H) Andalusia dalam suasana perpecahan dan perebutan kekuasaan. Dalam suasana seperti ini, anak cucu Khaldun yang bernama Kuraib mengadakan pemberontakan bersama Umayyah Ibnu Abdul Ghofir, dia berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan pemerintahan (sebagai Amir) di Sevilla. Akan tetapi karena kekejaman dan kekerasannya dia tidak disenangi rakyat dan akhirnya meninggal terbunuh pada tahun 899 H.
Banu Khaldun tetap tinggal di Sevilla selama pemerintahan Umayyah dengan tidak mengambil peranan yang berarti sampai datangnya pemerintahan raja-raja kecil (Ath-Thawalif) dan Sevilla berada dalam kekuasaan Ibnu Abbad. Pada masa itulah bintang Banu Khaldun melejit sampai pada masa pemerintahan Al-Muwahidun. Setelah raja-raja Thowaif mengalami kemunduran, maka muncullah raja-raja Muwahhidin menggeser kekuasaan raja-raja Murabbith.
Pada pemerintahan Muwahhidun inilah Banu Khaldun menjalin hubungan dengan keluarga pemerintah, sehingga mereka mempunyai kedudukan yang terhormat. Tatkala kerajaan Muwahhidin mengalami kemunduran dan Andalusia menjadi kacau balau, maka Banu Khaldun pindah ke Tunisia pada tahun 1223 M. Nenek moyang Ibnu Khaldun yang pertama mendarat ke Tunisia adalah Al Hasan Ibnu Muhammad (kakek keempat Ibnu Khaldun), kemudian disusul oleh saudara-saudaranya yang lain seperti Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar Muhammad dan lain-lain.
Kakek Ibnu Khaldun itu rata-rata menduduki jabatan penting di dalam pemerintahan waktu itu. Sedangkan anaknya Abu Abdillah Muhammad (ayah Ibnu Khaldun) tidak tertarik kepada jabatan pemerintahan. Ia lebih mementingkan bidang ilmu dan pendidikan, sehingga ia dikenal sebagai ahli dalam bidang ilmu fiqih, meninggal tahun 749 H/1349 M. Ia meninggalkan beberapa orang anak di antaranya Abu Yazid Waliuddin (Ibnu Khaldun), Umar, Musa, Yahya dan Muhammad. Pada waktu itu Ibnu Khaldun baru berusia 18 tahun. Ibnu Khaldun memperoleh pendidikan agama, bahasa, logika dan filsafat. Sebagai gurunya yang utama adalah ayahnya sendiri, di samping Ibnu Khaldun juga menghafal Al Qur’an, mempelajari fisika dan matematika dari ulama-ulama besar pada masanya.
Di antara guru-guru Ibnu Khaldun adalah Muhammad bin Saad Burral Al Anshari, Muhammad bin Abdissalam, Muhammad bin Abdil Muhaimin Al Hadhrami dan Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Al Abilli. Dari merekalah Ibnu Khaldun mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada tahun 1349 setelah kedua orang tua Ibnu Khaldun meninggal dunia Ibnu Khaldun memutuskan untuk pindah ke Maroko, namun dicegah oleh kakaknya. Baru tahun 1354, Ibnu Khaldun melaksanakan niatnya pergi ke Maroko, dan di sana dia mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan tingginya.
Selama menjalani pendidikannya di Marokko, ada empat ilmu yang dipelajarinya secara mendalam yaitu bahasa Arab yang terdiri dari Nahwu, shorof, balaghoh, khitabah dan sastra. Kelompok ilmu syari’at terdiri dari Fiqh (Maliki), tafsir, hadits, ushul fiqh dan ilmu Al Qur’an. Kelompok ilmu aqliyah (ilmu-ilmu filsafat) terdiri dari filsafat, mantiq, fisika, matematika, falak, musik, dan sejarah. Kelompok ilmu kenegaraan terdiri atas ilmu administrasi, organisasi, ekonomi dan politik. Sepanjang hidupnya Ibnu Khaldun tidak pernah berhenti belajar, sebagaimana dikatakan oleh Von Wesendonk, hingga wafat.
Kecemerlangan otaknya didukung oleh kemauannya yang membaja untuk menjadi seorang yang alim dan arif. Hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad Ibnu Khaldun telah mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Memasuki usia ke 20, Ibnu Khaldun mulai tertarik dengan kehidupan politik. Pada tahun 755 H/1354 M, karena kecakapannya Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretaris Sultan di Maroko, namun jabatan ini tidak lama di pangkuannya, karena pada tahun 1357 Ibnu Khaldun terlibat dalam persekongkolan untuk menggulingkan Amir bersama Amir Abu Abdullah Muhammad. Ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi tidak lama kemudian dia dibebaskan tak lama setelah Sultan meninggal dunia dan kekuasaan direbut oleh Al Manshur bin Sulaiman dari menterinya Al Hasan. Ibnu Khaldun lalu menggabungkan diri dengan Al Manshur dan dia diangkat menjadi sekretarisnya.
Namun tidak lama kemudian Ibnu Khaldun meninggalkan Al Manshur dan bekerjasama dengan Abu Salim. Pada waktu itu Abu Salim menduduki singgasana dan Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretarisnya dan dua tahun kemudian diangkat menjadi Mahkamah Agung. Di sinilah Ibnu Khaldun menunjukkan prestasinya yang luar biasa, tetapi itu pun tidak berlangsung lama, karena pada tahun 762 H./1361 M timbul pemberontakan di kalangan keluarga istana. Dia harus meninggalkan jabatan yang disandangnya. Rupanya tidak tahan lama Ibnu Khaldun bergelut dengan dunia politik dia ingin kembali ke dalam dunia ilmu pengetahuan yang pernah lama digelutinya.
Akhirnya dia memutar haluan bertolak ke daerah Banu Arif bersama keluarganya, dan di tempat inilah Ibnu Khaldun dan keluarganya baru merasa hidup tenang dan tentram jauh dari kemunafikan politik. Dalam ketenangannya itu Ibnu Khaldun merenung ingin menumpahkan semua pengalaman dan liku-liku kehidupannya. Maka dari sinilah ia mengalihkan perjalanan hidupnya dari petualang politik kembali kepada dunia ilmu pengetahuan, dan mulailah ia menyusun karya besarnya yang kemudian dikenal dengan “Muqoddimah Ibnu Khaldun”. Selama empat tahun tinggal di daerah Banu Arif Ibnu Khaldun juga menyusun sejarah besarnya Al Ibar, akan tetapi karena kekurangan referensi maka ia pergi ke Tunisia, dan dis analah ia menyelesaikan karyanya. Rupanya ketenangan Ibnu Khaldun terganggu lagi ketika Sultan mengajaknya untuk mendampingi menumpas pengacau, namun karena Ibnu Khaldun sudah jenuh dengan kehidupan politik, maka kemudian ia pindah ke Mesir.
Di Mesir Ibnu Khaldun disambut dengan hangat. Ilmuwan yang sarjana ini sudah tidak asing lagi di sana karena karya-karyanya sudah tersebar di sana. Sebagai orang baru Ibnu Khaldun langsung diberi dua jabatan penting yaitu sebagai hakim tinggi dan sebagai guru besar di perguruan Al Azhar. Sebagai seoang pemikir Ibnu Khaldun memiliki watak yang luar biasa yang kadang terasa kurang baik.
Dalam hal ini Muhammad Abdullah Enan melukiskan kepribadian Ibnu Khaldun yang istimewa itu dengan mencoba memperlihatkan ciri psikologik Ibnu Khaldun, walaupun diakuinya secara moral ini tidak selalu sesuai. Menurutnya, ia melihat dalam diri Ibnu Khaldun terdapat sifat angkuh dan egoisme, penuh ambisi, tidak menentu dan kurang memiliki rasa terima kasih. Namun di samping sifat-sifatnya yang tersebut di atas dia juga mempunyai sifat pemberani, tabah dan kuat, teguh pendirian serta tahan uji. Di samping memiliki intelegensia yang tinggi, cerdas, berpandangan jauh dan pandai berpuisi. Menurut beberapa ahli, Ibnu Khaldun dalam proses pemikirannya mengalami percampuran yang unik, yaitu antara dua tokoh yang saling bertolak belakang, Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Al Ghazali dan Ibnu Rusyd bertentangan dalam bidang filsafat. Ibnu Rusyd adalah pengikut Aristoteles yang setia, sedangkan Al Ghazali adalah penentang filsafat Aristoteles yang gigih. Ibnu Khaldun adalah pengikut Al Ghazali dalam permusuhannya melawan logika Aristoteles, dan pengikut Ibnu Rusyd dalam usahanya mempengaruhi massa.
Ibnu Khaldun adalah satu-satunya sarjana muslim waktu itu yang menyadari arti pentingnya praduga dan kategori dalam pemikiran untuk menyelesaikan perdebatan-perdebatan intelektual. Barangkali karena itulah seperti anggapan Fuad Baali bahwa Ibnu Khaldun membangun suatu bentuk logika baru yang realistik, sebagai upayanya untuk mengganti logika idealistik Aristoteles yang berpola paternalistik-absolutistik- spiritualistik. Sedangkan logika realistik Ibnu Khaldun ini berpola pikir relatifistik-temporalistik-materialistik. Dengan berpola pikir seperti itulah Ibnu Khaldun mengamati dan menganalisa gejala-gejala sosial beserta sejarahnya, yang pada akhirnya tercipta suatu teori kemasyarakatan yang modern.
Ibnu Khaldun terkenal sebagai ilmuwan besar adalah karena karyanya “Muqaddimah”. Rasanya memang aneh ia terkenal justru karena muqaddimahnya bukan karena karyanya yang pokok (Al Ibar), namun pengantar Al Ibarnyalah yang telah membuat namanya diagung-agungkan dalam sejarah intelektualisme. Karya monumentalnya itu telah membuat para sarjana baik di Barat maupun di Timur begitu mengaguminya. Sampai-sampai Windellband dalam filsafat sejarahnya menyebutnya sebagai “Tokoh ajaib yang sama sekali lepas, baik dari masa lampau maupun masa yang akan datang.” (sul)
Sumber: WartaOne.com
Harun Yahya, Sang Penantang Teori Darwin
Ankara - Mungkin sangatlah beralasan jika sebagian besar umat muslim di Indonesia mengenal nama Harun Yahya. Ilmuwan muslim ini dikenal sebagai bapak teori ciptaanisme. Bagaimana jejak kaki sang ciptaanisme muslim itu?
Harun Yahya adalah nama pena dari Adnan Oktar atau biasa ditulis Adnan Hoca. Pria kelahiran Ankara, Turki, pada tahun 1956 ini merupakan seorang tokoh teori ciptaanisme. Harun dikenal sebagai pejuang tangguh teori ciptaanisme.
Perbedaan mencolok antara ciptaanisme muslim dengan kristen terletak antara ciptaan versus evolusi. Dalam hal ini, Oktar menganut ciptaanisme Bumi Lama.
Pria yang memiliki dua nama nabi itu, Harun atau Aaron dan Yahya atau John merupakan seorang muslim sejati yang sangat anti Zionis. Dalam pandangannya gerakan zionist memiliki kaitan erat dengan gerakan mason. Meskipun, ia menolak tuduhan anti semitisme. Sebaliknya ia menuding ajaran anti semitisme sebagai bentuk kekafiran.
Adnan dibesarkan di Turki hingga lulus SMU. Komitmennya terhadap Islam tumbuh semakin kuat ketika ia duduk di bangku SMU. Pada periode ini, pengetahuan yang mendalam tentang Islam ia dapatkan dari membaca berbagai buku agama. Pada tahun 1979, Adnan Oktar pindah ke Istanbul untuk menuntut ilmu di Universitas Mimar Sinan.
Perjalanan karir intelektual muslim ini dimulai pada tahun 1979. Ketika ia pertama kali menuntut ilmu di Akademi Seni, Universitas Mimar Sinan. Selama berada di universitas tersebut, ia melakukan kajian filsafat dan ideologi materialistik yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat sekitar.
Majalah ilmiah populer terkenal New Scientist edisi 22 April 2000 menjuluki Adnan Oktar sebagai “pahlawan dunia”. Ia juga telah menghasilkan berbagai karya tentang Zionisme dan Freemasonry, serta ratusan buku yang mengulas masalah akhlak dalam Al-Qur’an dan bahasan-bahasan lain yang berhubungan dengan akidah.
Tak hanya ilmu filsafat, Adnan juga gemar menyelami dunia senia. Hingga akhirnya ia masuk ke Akademi Seni Universitas Mimar Sinan, Istanbul.
Meskipun sering menulis sains, ia tidak pernah secara sungguh-sungguh mempelajari sains pada tingkat universitas. Seperti dikutip wikipedia, Oktar telah menulis banyak buku dengan menggunakan nama pena Harun Yahya yang isinya menentang teori evolusi Charles Darwin. Ia juga berpendapat, evolusi secara langsung berkaitan dengan kejahatan-kejahatan materialisme, Naziisme dan komunisme.
Kebanyakan dari sumber-sumber anti evolusinya identik dengan argumen-argumen ciptaanisme Kristen dan komunitas ilmiah yang telah melakukan kritik-kritik yang identik.
Ia juga menerbitkan berbagai tulisan tentang Zionisme dan Freemasonry dan menuduh kaum Zionis melakukan rasisme dan menegaskan bahwa Zionisme dan Freemasonry telah menimbulkan banyak pengaruh negatif terhadap sejarah dan politik dunia.
Akhirnya, ia telah menulis lebih dari 100 buku yang mengungkapkan moral Al Qur’an dan masalah-masalah yang berkaitan dengan iman. Ratusan buku konon ditulis oleh Oktar. Karena itu sebagian orang mengklaim bahwa orang lain mestilah telah ikut menyumbangkan, atau menulis, banyak dari buku-buku itu. Tuduhan ini dengan keras disangkal di situsnya dan ia mengklaim bahwa dia adalah satu-satunya penulis dari semua buku itu.
Banyak dari karya Oktar telah atau sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Spanyol, Arab, Portugis, Albania, Serbo-Kroasia, Bosnia, Polandia, Urdu, Indonesia, Kazakh, Azeri, Melayu, Bengali dan Malayalam. Dan sebagian dari karyanya tersedia gratis disitus resmi Harun Yahya. Buku-bukunya dipublikasikan secara luas ke seluruh dunia.
Buku-buku Oktar yang berkaitan dengan iman berusaha untuk mengkomunikasikan keberadaan dan keesaan (Tauhid) Allah menurut iman Islam, dan ditulis dengan maksud utama memperkenalkan Islam kepada mereka yang tidak mengenal agama ini. Setiap bukunya yang berkaitan dengan sains menekankan pandangan-pandangannya tentang keperkasaan, kedalaman, dan keagungan Allah secara terinci.
Buku-buku ini berusaha memperlihatkan bagi kaum non Muslim apa yang diklaim Oktar sebagai tanda-tanda keberadaan Allah, dan kesempurnaan ciptaan-Nya. Sebuah sub kelompok di dalam seri ini adalah seri “Buku-buku yang Menghancurkan Kebohongan Evolusi”. Tujuan utama buku-buku ini adalah menyerang gagasan-gagasan Materialisme, Evolusi, Darwinisme, dan atheisme.
Sejak sebelum Adnan Oktar memulai kuliah di Universitas Mimar Sinan, Istanbul, institusi pendidikan tersebut telah berada di bawah pengaruh berbagai organisasi ilegal berhaluan Marxisme, sehingga pemikiran kekirian tampak jelas mendominasi kampus. Setiap orang, apakah ia staf di sebuah fakultas ataupun mahasiswa, adalah sosok materialis yang berpola pikir atheis.
Para staf pengajar mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menyebarkan filsafat materialistik dan Darwinisme dalam kuliah-kuliah yang mereka berikan kendatipun dua hal ini tidak ada hubungannya dengan topik kuliah mereka. Dalam lingkungan di mana ajaran agama dan akhlak tidak dipedulikan dan sama sekali ditolak, Adnan Oktar justru menyerukan orang-orang di sekitarnya akan keesaan dan keberadaan Allah SWT.
Sebagaimana mungkin telah dimaklumi, dalam kondisi demikian, Islam tidak diberi kesempatan untuk tumbuh berkembang. Ibunya, Mediha Oktar menuturkan bahwa pada masa itu Adnan hanya tidur beberapa jam saja di malam hari, sebagian besar sisa waktu ia gunakan untuk membaca, membuat catatan dan menyimpan kumpulan catatan tersebut.
Dalam semua buku karyanya, semua topik yang disampaikan sangat sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Bahkan topik-topik yang disampaikan melalui bahasa ilmiah, yang kadang dianggap rumit dan membingungkan, diuraikan dengan sangat lugas dan jelas dalam buku-buku Harun Yahya. Tidaklah mengherankan jika buku-buku tersebut menarik semua orang dari segala umur dan lapisan masyarakat.
Buku-buku yang berhubungan dengan keimanan mendakwahkan tentang keberadaan dan keesaan Allah SWT dan ditulis dengan tujuan utama menyampaikan Islam kepada mereka yang jauh dari agama dan membuka hati mereka agar menerima kebenaran.
Bagi pembaca Muslim, buku-buku tersebut berisikan nasehat dan peringatan. Dia juga telah menerbitkan karya-karyanya tentang hal-hal pokok yang disebutkan dalam Al-Qur’an agar kaum Muslim dapat meningkatkan ketakwaan dan kemampuan berpikir mereka secara mendalam. (sul/rko)
Sumber: WartaOne.com
Harun Yahya adalah nama pena dari Adnan Oktar atau biasa ditulis Adnan Hoca. Pria kelahiran Ankara, Turki, pada tahun 1956 ini merupakan seorang tokoh teori ciptaanisme. Harun dikenal sebagai pejuang tangguh teori ciptaanisme.
Perbedaan mencolok antara ciptaanisme muslim dengan kristen terletak antara ciptaan versus evolusi. Dalam hal ini, Oktar menganut ciptaanisme Bumi Lama.
Pria yang memiliki dua nama nabi itu, Harun atau Aaron dan Yahya atau John merupakan seorang muslim sejati yang sangat anti Zionis. Dalam pandangannya gerakan zionist memiliki kaitan erat dengan gerakan mason. Meskipun, ia menolak tuduhan anti semitisme. Sebaliknya ia menuding ajaran anti semitisme sebagai bentuk kekafiran.
Adnan dibesarkan di Turki hingga lulus SMU. Komitmennya terhadap Islam tumbuh semakin kuat ketika ia duduk di bangku SMU. Pada periode ini, pengetahuan yang mendalam tentang Islam ia dapatkan dari membaca berbagai buku agama. Pada tahun 1979, Adnan Oktar pindah ke Istanbul untuk menuntut ilmu di Universitas Mimar Sinan.
Perjalanan karir intelektual muslim ini dimulai pada tahun 1979. Ketika ia pertama kali menuntut ilmu di Akademi Seni, Universitas Mimar Sinan. Selama berada di universitas tersebut, ia melakukan kajian filsafat dan ideologi materialistik yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat sekitar.
Majalah ilmiah populer terkenal New Scientist edisi 22 April 2000 menjuluki Adnan Oktar sebagai “pahlawan dunia”. Ia juga telah menghasilkan berbagai karya tentang Zionisme dan Freemasonry, serta ratusan buku yang mengulas masalah akhlak dalam Al-Qur’an dan bahasan-bahasan lain yang berhubungan dengan akidah.
Tak hanya ilmu filsafat, Adnan juga gemar menyelami dunia senia. Hingga akhirnya ia masuk ke Akademi Seni Universitas Mimar Sinan, Istanbul.
Meskipun sering menulis sains, ia tidak pernah secara sungguh-sungguh mempelajari sains pada tingkat universitas. Seperti dikutip wikipedia, Oktar telah menulis banyak buku dengan menggunakan nama pena Harun Yahya yang isinya menentang teori evolusi Charles Darwin. Ia juga berpendapat, evolusi secara langsung berkaitan dengan kejahatan-kejahatan materialisme, Naziisme dan komunisme.
Kebanyakan dari sumber-sumber anti evolusinya identik dengan argumen-argumen ciptaanisme Kristen dan komunitas ilmiah yang telah melakukan kritik-kritik yang identik.
Ia juga menerbitkan berbagai tulisan tentang Zionisme dan Freemasonry dan menuduh kaum Zionis melakukan rasisme dan menegaskan bahwa Zionisme dan Freemasonry telah menimbulkan banyak pengaruh negatif terhadap sejarah dan politik dunia.
Akhirnya, ia telah menulis lebih dari 100 buku yang mengungkapkan moral Al Qur’an dan masalah-masalah yang berkaitan dengan iman. Ratusan buku konon ditulis oleh Oktar. Karena itu sebagian orang mengklaim bahwa orang lain mestilah telah ikut menyumbangkan, atau menulis, banyak dari buku-buku itu. Tuduhan ini dengan keras disangkal di situsnya dan ia mengklaim bahwa dia adalah satu-satunya penulis dari semua buku itu.
Banyak dari karya Oktar telah atau sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Spanyol, Arab, Portugis, Albania, Serbo-Kroasia, Bosnia, Polandia, Urdu, Indonesia, Kazakh, Azeri, Melayu, Bengali dan Malayalam. Dan sebagian dari karyanya tersedia gratis disitus resmi Harun Yahya. Buku-bukunya dipublikasikan secara luas ke seluruh dunia.
Buku-buku Oktar yang berkaitan dengan iman berusaha untuk mengkomunikasikan keberadaan dan keesaan (Tauhid) Allah menurut iman Islam, dan ditulis dengan maksud utama memperkenalkan Islam kepada mereka yang tidak mengenal agama ini. Setiap bukunya yang berkaitan dengan sains menekankan pandangan-pandangannya tentang keperkasaan, kedalaman, dan keagungan Allah secara terinci.
Buku-buku ini berusaha memperlihatkan bagi kaum non Muslim apa yang diklaim Oktar sebagai tanda-tanda keberadaan Allah, dan kesempurnaan ciptaan-Nya. Sebuah sub kelompok di dalam seri ini adalah seri “Buku-buku yang Menghancurkan Kebohongan Evolusi”. Tujuan utama buku-buku ini adalah menyerang gagasan-gagasan Materialisme, Evolusi, Darwinisme, dan atheisme.
Sejak sebelum Adnan Oktar memulai kuliah di Universitas Mimar Sinan, Istanbul, institusi pendidikan tersebut telah berada di bawah pengaruh berbagai organisasi ilegal berhaluan Marxisme, sehingga pemikiran kekirian tampak jelas mendominasi kampus. Setiap orang, apakah ia staf di sebuah fakultas ataupun mahasiswa, adalah sosok materialis yang berpola pikir atheis.
Para staf pengajar mengambil setiap kesempatan yang ada untuk menyebarkan filsafat materialistik dan Darwinisme dalam kuliah-kuliah yang mereka berikan kendatipun dua hal ini tidak ada hubungannya dengan topik kuliah mereka. Dalam lingkungan di mana ajaran agama dan akhlak tidak dipedulikan dan sama sekali ditolak, Adnan Oktar justru menyerukan orang-orang di sekitarnya akan keesaan dan keberadaan Allah SWT.
Sebagaimana mungkin telah dimaklumi, dalam kondisi demikian, Islam tidak diberi kesempatan untuk tumbuh berkembang. Ibunya, Mediha Oktar menuturkan bahwa pada masa itu Adnan hanya tidur beberapa jam saja di malam hari, sebagian besar sisa waktu ia gunakan untuk membaca, membuat catatan dan menyimpan kumpulan catatan tersebut.
Dalam semua buku karyanya, semua topik yang disampaikan sangat sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Bahkan topik-topik yang disampaikan melalui bahasa ilmiah, yang kadang dianggap rumit dan membingungkan, diuraikan dengan sangat lugas dan jelas dalam buku-buku Harun Yahya. Tidaklah mengherankan jika buku-buku tersebut menarik semua orang dari segala umur dan lapisan masyarakat.
Buku-buku yang berhubungan dengan keimanan mendakwahkan tentang keberadaan dan keesaan Allah SWT dan ditulis dengan tujuan utama menyampaikan Islam kepada mereka yang jauh dari agama dan membuka hati mereka agar menerima kebenaran.
Bagi pembaca Muslim, buku-buku tersebut berisikan nasehat dan peringatan. Dia juga telah menerbitkan karya-karyanya tentang hal-hal pokok yang disebutkan dalam Al-Qur’an agar kaum Muslim dapat meningkatkan ketakwaan dan kemampuan berpikir mereka secara mendalam. (sul/rko)
Sumber: WartaOne.com
Potret Kehidupan Syaikh Al Albani
Jakarta - Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh Al-Albani, atau yang biasa disapa Syaikh Al Albani lahir pada tahun 1333 H/1914 M di Ashqodar, Albania. Ahli hadits ini lahir dari keluarga miskin yang gemar mendalami ilmu tafsir dan hadist.
Ketika Raja Ahmet Zogu mencapai puncak kekuasaan di Albania dan berhasil mereformasi sistem pemerintahan menjadi sekuler. Ayah Albani, Syeikh Nuh, khawatir kehidupan keluarganya akan terancam. Pada akhirnya memaksanya untuk berhijrah ke Syam (sekarang Suriah, Yordania dan Libanon). Ia dan keluarganya pun pindah ke Damaskus.
Setibanya di Damaskus, Syaikh Al Albani yang masih terbilang kecil mulai mendalami ilmu bahasa Arab. Pendidikan awal Al Albani di sekolah dasar Jam’iyyah Al Is’af Al Khairiyah. Selanjutnya, ia menimba ilmu secara privat dari para Syeikh di Damaskus. Ia juga belajar menghafal Al Qur’an dari ayahnya hingga khatam. Setelah itu, ia menjadi pengagum karya-karya fiqih mazhab Imam Hanafi.
Selain itu, Syaikh Al Albani juga mempelajari ketrampilan memperbaiki jam dari sang ayah. Pengalaman memperbaiki jam ini menjadi sumber utama mata pencariannya untuk membeli kitab-kitab karya besar Imam Hanafi.
Pada umur dua puluh tahun, Syaikh Al Albani mulai fokus mendalami ilmu hadits karena terkesan dengan kajian di majalah Al Manar yang diterbitkan Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Secara tekun ia menyalin kitab berjudul Al Mughni an Hamli Al Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, sebuah kitab karya Al Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.
Usaha Syeikh Al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya. “Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit,” kata ayahnya seperti dikenang Imam Al Albani.
Namun, Syeikh Al Albani justru semakin menekuni dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh Al Albani tidak
memiliki cukup uang untuk membeli kitab. Karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan Azh-Zhahiriyah di Damaskus. Saking sibuknya mendalami ilmu hadits hingga ia pun menutup kios reparasi jam. Ia tak pernah beristirahat menelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba.
Sikap gigih Syaikh Al Albani untuk menjadi ahli hadist membuat kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan. Bahkan, ia diberi kewenangan untuk membawa kunci perpustakaan sendiri. Sehingga ia menjadi leluasa datang sebelum pengunjung lain tiba. Rutinas ini dijalaninya bertahun-tahun.
kegigihannya menyebarkan sunnah Rasulu untuk memurnikan ajaran agama Islam dan memerangi bid’ah, membuat orang-orang tidak menyukainya. Kemudian mereka menyebarkan fitnah. Hingga akhirnya Syaikh Al Albani dijebloskan ke dalam penjara selama dua kali.
Setelah lulus dari salah satu universitas terkemuka di Arab Saudi. Syaikh Al Albani kemudian mengajar di Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, dari tahun 1381-1383 H, dengan spesifikasi pada ilmu hadits. Setelah itu, ia pindah ke Yordania.
Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Syeikh Al Albani menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah perguruan tinggi di Yordania. Tapi, situasi politik ketika itu tak memungkinkan memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H, ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Ia mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi berupa King Faisal Foundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H (1999 M).
Beberapa karya Syeikh Al Albani di bidang ilmu hadist yang berjumlah 218 judul telah dicetak. Berikut ini beberapa master piece karya Syeikh Al Albani yang ditulis selama kurang lebih 60 tahun yang meliputi tulisan ilmiah, tahqiq, dan takhrij:
1. Adabuz Zifaaf fis Sunnah Muthaharrah – karangan
2. Ahkaamul Janaaiz – karangan
3. Irwaaul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil – karangan 8 jilid
4. Tamaamul Minnah fi Ta’liq ‘Alaa Fiqh Sunnah.
5. Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah wa syai-un min fiqiha wa fawaa-iduha
6. Silsilah Ahaadits Adh-Dhaifah wal Maudhuu’ah wa Atsaaruha As-Sayyi’ fil Ummah
7. Shifat shalat Nabi shallahu’alaihi wasallam minat Takbiir ilat Taslim kaannaka taraaha
8. Shahih At-Targhib wat Tarhiib
9. Dha’if At-Targhib wat Tarhiib
10. Fitnatut Takfiir
11. Jilbaab Al-Mar’atul muslimah
12. Qishshshah Al-Masiih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa ‘alaihis sallam wa qatluhu iyyahu fi akhiriz Zaman
Saat ini, beberapa karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, beliau juga memiliki kaset hasil rekaman ceramah beliau, bantahan terhadap berbagai syubhat dan jawaban terhadap berbagai masalah yang bermanfaat.
Syaikh Al Albani wafat di Yordani ketika adzan Ashar berkumandang di hari Sabtu, tanggal 22 Jumadil Akhir 1420 H. Jasad Syaikh Al Abani pun dikebumikan di kota Ashabul Kahfi itu. (sul/lik)
Sumber: WartOne.com
Ketika Raja Ahmet Zogu mencapai puncak kekuasaan di Albania dan berhasil mereformasi sistem pemerintahan menjadi sekuler. Ayah Albani, Syeikh Nuh, khawatir kehidupan keluarganya akan terancam. Pada akhirnya memaksanya untuk berhijrah ke Syam (sekarang Suriah, Yordania dan Libanon). Ia dan keluarganya pun pindah ke Damaskus.
Setibanya di Damaskus, Syaikh Al Albani yang masih terbilang kecil mulai mendalami ilmu bahasa Arab. Pendidikan awal Al Albani di sekolah dasar Jam’iyyah Al Is’af Al Khairiyah. Selanjutnya, ia menimba ilmu secara privat dari para Syeikh di Damaskus. Ia juga belajar menghafal Al Qur’an dari ayahnya hingga khatam. Setelah itu, ia menjadi pengagum karya-karya fiqih mazhab Imam Hanafi.
Selain itu, Syaikh Al Albani juga mempelajari ketrampilan memperbaiki jam dari sang ayah. Pengalaman memperbaiki jam ini menjadi sumber utama mata pencariannya untuk membeli kitab-kitab karya besar Imam Hanafi.
Pada umur dua puluh tahun, Syaikh Al Albani mulai fokus mendalami ilmu hadits karena terkesan dengan kajian di majalah Al Manar yang diterbitkan Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Secara tekun ia menyalin kitab berjudul Al Mughni an Hamli Al Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, sebuah kitab karya Al Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.
Usaha Syeikh Al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya. “Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit,” kata ayahnya seperti dikenang Imam Al Albani.
Namun, Syeikh Al Albani justru semakin menekuni dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh Al Albani tidak
memiliki cukup uang untuk membeli kitab. Karenanya, ia memanfaatkan Perpustakaan Azh-Zhahiriyah di Damaskus. Saking sibuknya mendalami ilmu hadits hingga ia pun menutup kios reparasi jam. Ia tak pernah beristirahat menelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba.
Sikap gigih Syaikh Al Albani untuk menjadi ahli hadist membuat kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan. Bahkan, ia diberi kewenangan untuk membawa kunci perpustakaan sendiri. Sehingga ia menjadi leluasa datang sebelum pengunjung lain tiba. Rutinas ini dijalaninya bertahun-tahun.
kegigihannya menyebarkan sunnah Rasulu untuk memurnikan ajaran agama Islam dan memerangi bid’ah, membuat orang-orang tidak menyukainya. Kemudian mereka menyebarkan fitnah. Hingga akhirnya Syaikh Al Albani dijebloskan ke dalam penjara selama dua kali.
Setelah lulus dari salah satu universitas terkemuka di Arab Saudi. Syaikh Al Albani kemudian mengajar di Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, dari tahun 1381-1383 H, dengan spesifikasi pada ilmu hadits. Setelah itu, ia pindah ke Yordania.
Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta Syeikh Al Albani menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah perguruan tinggi di Yordania. Tapi, situasi politik ketika itu tak memungkinkan memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H, ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Ia mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi berupa King Faisal Foundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H (1999 M).
Beberapa karya Syeikh Al Albani di bidang ilmu hadist yang berjumlah 218 judul telah dicetak. Berikut ini beberapa master piece karya Syeikh Al Albani yang ditulis selama kurang lebih 60 tahun yang meliputi tulisan ilmiah, tahqiq, dan takhrij:
1. Adabuz Zifaaf fis Sunnah Muthaharrah – karangan
2. Ahkaamul Janaaiz – karangan
3. Irwaaul Ghalil fi Takhrij Ahaadits Manaaris Sabiil – karangan 8 jilid
4. Tamaamul Minnah fi Ta’liq ‘Alaa Fiqh Sunnah.
5. Silsilah Ahaadits Ash-Shahihah wa syai-un min fiqiha wa fawaa-iduha
6. Silsilah Ahaadits Adh-Dhaifah wal Maudhuu’ah wa Atsaaruha As-Sayyi’ fil Ummah
7. Shifat shalat Nabi shallahu’alaihi wasallam minat Takbiir ilat Taslim kaannaka taraaha
8. Shahih At-Targhib wat Tarhiib
9. Dha’if At-Targhib wat Tarhiib
10. Fitnatut Takfiir
11. Jilbaab Al-Mar’atul muslimah
12. Qishshshah Al-Masiih Ad-Dajjal wa Nuzuul Isa ‘alaihis sallam wa qatluhu iyyahu fi akhiriz Zaman
Saat ini, beberapa karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, beliau juga memiliki kaset hasil rekaman ceramah beliau, bantahan terhadap berbagai syubhat dan jawaban terhadap berbagai masalah yang bermanfaat.
Syaikh Al Albani wafat di Yordani ketika adzan Ashar berkumandang di hari Sabtu, tanggal 22 Jumadil Akhir 1420 H. Jasad Syaikh Al Abani pun dikebumikan di kota Ashabul Kahfi itu. (sul/lik)
Sumber: WartOne.com
Jejak Kaki Ibnu Sina
Jakarta - Ketika peradaban Islam mengalami kemajuan pesat di abad pertengahan. Nama Ibnu Sina disebut-sebut sebagai tokoh yang memiliki peran besar, terutama dalam bidang kedokteran. Terlepas dari kontroversi yang mengiringi kematiannya, siapakah Ibnu Sina itu?
Pakar kedokteran muslim ini lahir pada tahun 370 H/980 M di Afshana, sebuah kota kecil di wilayah Uzbekistan. Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, yang berasal dari Balkh Khorasan. Ketika Ibnu Sina lahir, ayahnya menjabat sebagai gubernur di pemukiman Nuh Ibnu Manshur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia).
Sang ayah, ingin putranya menggali ilmu pengetahuan di Bukhara. Dengan kegigihan menerpa ilmu akhirnya, pribadi yang dikenal dengan Avicenna di dunia barat ini, menjadi seorang filosof, ilmuwan, dokter, dan seorang penulis yang produktif.
Hampir sebagian besar karyanya membahas tentang filsafat dan pengobatan. Karyanya yang monumental ialah Qanun fi Thib. Bahkan karya master piece ini menjadi rujukan di bidang kedokteran sampai dengan saat ini. Intelektual Barat George Sarton menyebut Ibnu Sina sebagai ilmuwan terkenal dari ranah Islam lewat karyanya The Book of Healing dan The Canon of Medicine yang juga dikenal sebagai Qanun.
Sejak kecil memang Ibnu Sina telah menampakkan kecerdasannya. Dalam usia belia ia telah hafal membaca Al-Quran di usia 5 tahun. Ia juga menjadi penyair Persia yang paling digemari. Dan seorang yang tak pernah malu untuk belajar aritmatika dari seorang pedagang sayur.
Hal yang menjadi kebiasaan Ibnu Sina jika gagal memahami pelajaran. Ia selalu pergi ke sebuah surau untuk berwudhu dan shalat hingga turun sebuah hidayah di alam pikirannya. Bekerja di meja belajar hingga larut malam merupakan rutinitas yang sulit dirubah sebelum sebuah rumus kedokteran bisa dipecahkan. Karena memang Ibnu Sina mulai mempelajari ilmu kedokteran sejak umur 16 tahun.
Tidak sebatas ilmu kedokteran, lebih dari itu Ibnu Sina juga mempelajari ilmu merawat pasien. Ia pun melakukannya secara sukarela tanpa meminta upah. Keyakinan yang diberikan masyarakat kepada Ibnu Sina itu, akhinya ia dipercaya menjadi tabib raja di istana.
Kehebatannya berhasil mengobati raja dari penyakit berbahaya dan mematikan. Peritiwa inilah yang kemudian mengantarkannya masuk ke perpustakaan raja Samanids. Namun sayangnya, ketika perpustakaan terbakar, Ibnu Sina dituduh sebagai pemicu munculnya api.
Beberapa karya monumental Ibnu Sina, antara lain Qanun fi Thibb (Canon of Medicine), Asy-Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan) dan An-Najat. Setelah itu, ikon pemikir besar Iran ini akhirnya wafat pada tahun 428 H di usianya ke 58. (sul/lik)
Sumber: WartaOne.com
Pakar kedokteran muslim ini lahir pada tahun 370 H/980 M di Afshana, sebuah kota kecil di wilayah Uzbekistan. Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, yang berasal dari Balkh Khorasan. Ketika Ibnu Sina lahir, ayahnya menjabat sebagai gubernur di pemukiman Nuh Ibnu Manshur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia).
Sang ayah, ingin putranya menggali ilmu pengetahuan di Bukhara. Dengan kegigihan menerpa ilmu akhirnya, pribadi yang dikenal dengan Avicenna di dunia barat ini, menjadi seorang filosof, ilmuwan, dokter, dan seorang penulis yang produktif.
Hampir sebagian besar karyanya membahas tentang filsafat dan pengobatan. Karyanya yang monumental ialah Qanun fi Thib. Bahkan karya master piece ini menjadi rujukan di bidang kedokteran sampai dengan saat ini. Intelektual Barat George Sarton menyebut Ibnu Sina sebagai ilmuwan terkenal dari ranah Islam lewat karyanya The Book of Healing dan The Canon of Medicine yang juga dikenal sebagai Qanun.
Sejak kecil memang Ibnu Sina telah menampakkan kecerdasannya. Dalam usia belia ia telah hafal membaca Al-Quran di usia 5 tahun. Ia juga menjadi penyair Persia yang paling digemari. Dan seorang yang tak pernah malu untuk belajar aritmatika dari seorang pedagang sayur.
Hal yang menjadi kebiasaan Ibnu Sina jika gagal memahami pelajaran. Ia selalu pergi ke sebuah surau untuk berwudhu dan shalat hingga turun sebuah hidayah di alam pikirannya. Bekerja di meja belajar hingga larut malam merupakan rutinitas yang sulit dirubah sebelum sebuah rumus kedokteran bisa dipecahkan. Karena memang Ibnu Sina mulai mempelajari ilmu kedokteran sejak umur 16 tahun.
Tidak sebatas ilmu kedokteran, lebih dari itu Ibnu Sina juga mempelajari ilmu merawat pasien. Ia pun melakukannya secara sukarela tanpa meminta upah. Keyakinan yang diberikan masyarakat kepada Ibnu Sina itu, akhinya ia dipercaya menjadi tabib raja di istana.
Kehebatannya berhasil mengobati raja dari penyakit berbahaya dan mematikan. Peritiwa inilah yang kemudian mengantarkannya masuk ke perpustakaan raja Samanids. Namun sayangnya, ketika perpustakaan terbakar, Ibnu Sina dituduh sebagai pemicu munculnya api.
Beberapa karya monumental Ibnu Sina, antara lain Qanun fi Thibb (Canon of Medicine), Asy-Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan) dan An-Najat. Setelah itu, ikon pemikir besar Iran ini akhirnya wafat pada tahun 428 H di usianya ke 58. (sul/lik)
Sumber: WartaOne.com
Langganan:
Postingan (Atom)